Kolaborasi Disbun Kukar dan Solidaridad Indonesia Percepat Implementasi Perpres Nilai Ekonomi Karbon
Lokakarya yang di gelar oleh Disbun Kukar bersama dengan Solidaridad Indonesia.
(Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Kolaborasi antara Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dan Solidaridad Indonesia terus diperkuat untuk mempercepat implementasi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon (NEK).
Melalui sinergi tersebut, pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan berupaya memperkuat pengendalian emisi gas rumah kaca di sektor perkebunan sebagai bagian dari pembangunan rendah karbon dan perkebunan berkelanjutan.
Komitmen itu diwujudkan melalui Lokakarya
bertema Aksi dan Strategi Melalui Sinergitas Penanganan Dampak Negatif
Perubahan Iklim dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca di Kabupaten Kutai
Kartanegara yang digelar Ruang Rapat Disbun Kukar, Tenggarong, Kamis
(25/6/2026).
Lokakarya tersebut melibatkan berbagai unsur,
mulai dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemkab Kukar, perusahaan
perkebunan, kelompok tani, Kelompok Tani Peduli Api (KTPA).
Kepala Disbun Kukar, Muhammad Taufik,
mengatakan forum tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman yang
ditandatangani Pemkab Kukar bersama Solidaridad Indonesia pada Desember 2025
lalu.
Ia menjelaskan, Solidaridad Indonesia
merupakan lembaga nirlaba sekaligus mitra pembangunan yang berfokus pada
pengembangan perkebunan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat, khususnya di
sektor perkebunan.
Menurutnya, ruang lingkup kerja sama tidak
hanya mencakup pengendalian dampak perubahan iklim, tetapi juga penguatan
kelembagaan petani, pemberdayaan UMKM berbasis pertanian, peningkatan kapasitas
sumber daya manusia, hingga pendampingan terhadap pekebun sawit swadaya.
Sejumlah program pun telah berjalan sejak nota
kesepahaman diteken, di antaranya sosialisasi kepada masyarakat, pelatihan
Training of Trainers (ToT) bagi kelompok wanita tani, serta pendampingan kebun
sawit swadaya melalui kerja sama dengan REA Kaltim di kawasan Kebun Janggut.
Seluruh kegiatan tersebut diarahkan untuk
memperkuat praktik perkebunan yang memperhatikan aspek ekonomi, sosial, dan
lingkungan secara seimbang.
"Intinya adalah bagaimana aspek
lingkungan, baik lingkungan hidup, ekonomi, maupun sosial, dapat disinergikan
untuk mewujudkan pembangunan perkebunan yang berkelanjutan," ujarnya.
Ia menuturkan, pembahasan dalam forum tersebut
juga terkoneksi dengan Rencana Aksi Daerah (RAD) Perkebunan Kelapa Sawit
Berkelanjutan yang telah ditetapkan melalui Peraturan Bupati.
Selain memperkuat kolaborasi, pemerintah
daerah juga mendorong percepatan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil
(ISPO) bagi perkebunan rakyat melalui penguatan kelembagaan koperasi.
Pendampingan dari Solidaridad Indonesia
dinilai penting agar pekebun mampu memenuhi standar keberlanjutan tersebut.
"Saya juga sudah meminta Solidaridad agar
dapat membantu pemerintah daerah melakukan pendampingan kepada para pekebun
dalam proses memperoleh sertifikasi ISPO tersebut," jelasnya.
Sementara itu, Palm Oil Consultant Solidaridad
Indonesia, Wilistra Danny, menjelaskan bahwa Solidaridad merupakan Civil
Society Organization (CSO) yang mendampingi petani dalam menerapkan praktik
perkebunan berkelanjutan, termasuk pada subsektor kelapa sawit.
Menurutnya, organisasi tersebut juga berperan
membantu berbagai pihak dalam mendorong aksi mitigasi perubahan iklim melalui
pengelolaan perkebunan yang lebih ramah lingkungan.
Ia mengatakan, perhatian dunia terhadap
perubahan iklim terus meningkat karena dampaknya semakin nyata.
Melalui Paris Agreement, berbagai negara
berkomitmen menjaga kenaikan temperatur bumi agar tidak melebihi dua derajat
Celsius, bahkan diupayakan berada di bawah 1,5 derajat Celsius dibandingkan
masa praindustrialisasi.
"Kalau kita lebih banyak berbicara
mengenai mitigasi, maka mitigasi itu adalah bagaimana menahan emisi yang timbul
dari kegiatan ekonomi dan aktivitas manusia agar tidak terus bertambah, atau
menyerap kembali gas rumah kaca yang sudah terakumulasi di atmosfer,"
jelasnya.
Menurutnya, apabila kenaikan suhu bumi terus
berlangsung, dampaknya akan dirasakan oleh manusia, tumbuhan, satwa, hingga
ekosistem secara keseluruhan.
Karena itu, selain mitigasi, diperlukan pula
langkah adaptasi agar masyarakat mampu menghadapi perubahan iklim yang tidak
dapat dihindari sepenuhnya.
"Kalau temperatur bumi terus meningkat,
akan terjadi perubahan yang sangat signifikan dan berdampak negatif terhadap
kehidupan, baik kehidupan manusia, hewan, tumbuhan, maupun ekosistem secara
keseluruhan. Bahkan dapat mengubah kondisi ekologi dan ekosistem yang ada saat
ini," kata dia.
Selain membahas pengurangan emisi, Wilistra
menjelaskan bahwa dunia juga mulai menerapkan mekanisme nilai ekonomi karbon
melalui perdagangan karbon (Carbon Trading).
Skema tersebut memberikan peluang ekonomi bagi
pihak yang mampu menurunkan emisi gas rumah kaca melalui mekanisme berbasis
pasar.
"Bukan sekadar seseorang berhasil
menurunkan emisi lalu langsung diberi hadiah. Tetapi harus melalui mekanisme
pasar, yaitu ada nilai ekonomi yang diperjualbelikan berdasarkan besarnya
penurunan emisi yang berhasil dicapai. Karena itulah kemudian muncul istilah
perdagangan karbon," jelasnya.
Ia menilai Lokakarya di Kukar menjadi langkah
awal yang baik karena mempertemukan pemerintah, perusahaan, kelompok tani,
organisasi masyarakat sipil, dan pemerintah provinsi dalam satu forum
kolaborasi.
Menurutnya, keberhasilan pengendalian
perubahan iklim sangat bergantung pada keterlibatan seluruh pemangku
kepentingan.
"Mudah-mudahan kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi ada tindak lanjut. Tadi juga sudah diusulkan agar dibuat matriks hasil kegiatan, sehingga pada FGD atau lokakarya berikutnya sudah jelas apa yang harus dibahas dan ditindaklanjuti. Karena forum ini bersifat multistakeholder, ada pemerintah, perusahaan, LSM hingga pemerintah provinsi," pungkasnya. (kriz)